Selasa, 10 Februari 2015

Masih Sama ~Re-post~

Tittle : Andai saja? Episode. 2
Cast :
  •  Anisa rahma adi
  • Brigitta chyntia (?)
  • Bisma Karisma
  • De el el…. 



sebelumnya........ 


ini link part 1, tambahan dari Own sii superr Kece, tapi masih kecean kaliaann Abv .. :v







Bismillah..

         Sesampainya dirumah, Anisa langsung mengganti pakaian dengan baju yang sederhana. Ia melepaskan kacamtanya sejenak tuk mengambil air wudhu lalu memakai sebuah kain suci (?). rupanya ia akan melaksanakan tugas tujuan utama hidupnya yaitu beribadah kepada sang pencipta. Setelahnya, lantunan ayat suci Al-Qur’an ia kumandangkan dikamar luasnya. Lalu, Anisa beranjak menuju dapur. Sepertinya ia akan membantu ibunya untuk menyiapkan menu makanan hari ini, karena terlihat Anisa langsung saja mengambil pisau dan papan untuk memotong sesuatu.
  “Sayang, kamu jangan terlalu lelah ‘nak. Ini semua biar mama yang menyelesaikannya.”Ujar ibunya. Kata-kata itu sangatlah familiar ditelinga Anisa. Namun Anisa hanya bisa membalasnya dengan senyuman simpul, tapi kali ini ia menjawab (?).
  “gapapa lah ma, lagian mubazir kalo Anisa diciptain buat gini-gini aja.” Seketika itu pula ibunya menghentikan aktivitasnya, ibunya itu tampak terdiam sejenak dan menggeleng kepala kemudian melanjutkannya lagi.
  “Oh ya ma, abis ini Nisa mau langsung keruang prakteknya papa mauu ini emmhh ada berkas yang perlu Nisa pelajari.” Lanjut Anisa. Bicaranya seperti orang dewasa yang kerjanya kantoran, padahal ia masih duduk dibangku SMA kelas XII.
 “Nisa! Boleh, tapi setelah makan siang.” Ibunya terlihat panas (?)
 “Tapi ma, Nisa harus cepat-cepat menguasai materi yang papa kasih sebelum papa pulang.” Jawab Anisa tetap halus.
  “Ayolah Nisa, mama minta kamu lupain sejenak tentang itu. Mama tak ingin kamu..”
 “Tapi ma, gimana kalo papa nanya berkas yang belum Nisa pelajari itu? Nisa harus jawab apa, ma? Pokonya Nisa gak mau ngecewain papa.” Jawab Anisa lembut. Tanpa disadari air mata menetes dipipi ibunya. Ibunya mematikan kompor lalu membalikan badannya dan menatap tubuh Anisa yang sedikit kurusan. Anisa masih saja sibuk memotong beberapa bahan masakan.
 “Mama mohon, lupakan cita-cita papamu. Mama sudah tak tahan, jaga kesehatanamu Anisa, dari awal mama juga tak setuju jika kamu mengikuti jejak papamu.” Nasihatnya. Namun, Anisa tetap menggeleng.
 Sudah lama memang, bahkan sejak anak-anaknya masih kecil orang tua Anisa sudah berbeda misi dan visi untuk mendidik mau jadi apa anaknya nanti. Tak kadang pula mereka bertengkar mempermasalahkan itu, namun tidak untuk didepan anak-anaknya terutama didepan Anisa.
.

.

         Selesai mempelajari berkas itu, Anisa memutuskan untuk mengisi perutnya. Namun, baru saja sesuap nasi ia layangkan pada mulutnya, ayahnya dating dan langsung harus menemuinya diruang praktik pribadinya. Sontak sang ibuyang sedang memperhatikan Anisa makan, langsung mengajak suaminya ketempat tersembunyi (?). Namun, saat mereka bercakap-cakap ditempat tersebut tanpa diketahui, Gigi mengintipnya diikuti intipan Anisa. Gigi dan Anisa mendengar ke2 orangtuanya sedang memperdebatkan sesuatu. Walaupun terdengar samar, Gigi masih bisa mengaritkannya bahwa mereka sedang bertengkar.
“Ini semua gara-gara lo tau gak!” gigi memarahi kakaknya yang jelas-jelas Anisa masih tak mengerti apa salahnya.
“Aku?emang aku kenapa?” Tanya Anisa polos, menunjuk dirinya sendiri dengan jari telunjuknya.
“Iya elu ! mereka berantem gara-gara elu!!.” Gig kembali membentak Anisa.
“Mereka? Maksud kamu papa mama? Emang lagi pada berantem?.” Tanyanya lagi. Sepertinya Anisa tak begitu memperhatikan gerak gerik ke2 orangtuanya yang sedang bertengkar itu.
“Elu tuu!!! Arrgghh…(hampir memukul Anisa). Pinter dimananya sih?!. Nyesel gue punya sodara kaya lu.” Bentak Gigi lagi, namun kali ini namun kali ini suaranya lebih keras dan terdengar oleh ke2 orangtuanya. Seketika mereka menghentikan pertengkarannya dan menghampiri anak-anaknya dengan langkah yang tergesa-gesa.
“Anisa kamu ngga apa-apa ‘nak?” Tanya ibunya sambil meraba dan mendongakan wajah Anisa. Pertanyaan yang aneh, kenapa hanya Anisa yang mendapat peranyaan itu?
“Dasar..” ucap Gigi seraya berlalu. Wajahnya sinis saat sekilas melirik wajah Anisa. Mungkin Gigi kesal atau iri karena selalu saja apa-apa Anisa yang didahulukan. Baru saja, yang pertama kali disapa malah Anisa.
“Ma, kata Gigi mama sama papa lagi berantem yah?” Tanya Anisa polos, ibunya langsung saling memandang dengan suaminya.
“Enggak sayang, mama sama papa tadi lagi eksperimen (?).” jawabnya berbohong, Anisa hanya mengangguk dan O.

.

.

.

                   Hari terus berlanjut, karena hari ini belumlah kiamat. Anisa masih tetap saja begitu,masih menjadi sesosok yang pendiam dengan gelar yang ia pertahankan apalagi kalau bukan “SIANEH”. Tapi kini genk chibi selalu mencoba mendekati Anisa. Maksud mereka baik, hanya ingin menjadi teman Anisa saja.
          Sekarang chibi dan smash sedang bercanda ria dikantin. Mereka 1 meja, smash terdiri dari 7 pria, sedangkan chibi terdiri dari 7 eumm.. 8 wanita namun sijagoannya chibi masih belum tampak diantara mereka.
 “Eh gue ngerasa kasian deh sama Anisa, tiap hari dia sendiri gitu gak pernah ada yang nemenin. Sekali ada paling cuman gue doang.” Ucap Christy iba sambil melihat kearah diamana Anisa duduk.
 “Gimana kalo Anisa gabung sama kita? Gimana?” solusi reza yang sukses mendapat anggukan dari teman-temannya.
 .
.


      Suasana kantin menjadi berubah ketika ada sosok wanita tomboy muncul dpintuk masuk. Ia selalu menjadi perhatian khalayak karena tingkah polahnya yang selalu mengundang tawa. Baru saja saat ia akan menghampiri chibi dan smash, ia berjalan santai dengan iringan canda tawa seisi kantin. Siapa yang tidak ketawa melihat ulah Gigi yang berjalan sambil mengangkat 1 tangannya lalu ia gerakan seakan dia itu seorang pejabat. Diam-diam Anisa tersenyum melihat adiknya.
 “Wey bro, dari mana aja lo. Jam segini baru nongol?” Tanya dicky sesaat setelah Gigi duduk disampingnya.
 “Ya elah telat 15 menit aja udah jadi pertanyaan. Aa.aaa ngerasa kehilangan gue yak!” goda Gigi sambil menunjuk-nunjuk emua temannya.
 “sorakin gigi…!!”
 “wuuu..”
 “sekali lagi”
 “woooo…….”

          Gigi hanya tertawa garing melihat teman-temannya meledeknya. Ini hal biasa jadi gigi hanya menyikapinya dengan canda pula. Gigi tak pernah menganggap serius atas apa yg dikatakan temannya walaupun itu menyinggung perasaannya. Itulah chibi & smash, mereka sangat merasa kehilangan sekali bila mereka tanpa kehadiran Gigi.
Saat semua sedang asyik melahap makanan, tiba-tiba terdengar suara bunyi aneh dari bawah. Setelahnya, tercium bau sesuatu yang menghilangkan nafsu makan semuanya. Chibi dan smash menutup hidungnya masing-masing. Gigi malah terlihat tertawa ngakak atas ulahnya itu.
“iihh Gigi kebiasaan deh .” dengus Christy yang sedang memencet idungnya dan mengibas-ngibaskan tangannya didepannya. Tak sengaja saat Christy melirik sekilas kearah Anisa. Anisa terlihat tersenyum melihat adiknya, tapi setelah Anisa mengetahui bahwa ada yang memperhatikannya, Anisa kembali menjadikan dirinya seperti semula. Aneh’itulah yang ada difikiran chrsity, ya kalopun mau ketawa silahkan aja kenapa harus malu.. tapi kalo ia tersenyum, manis juga. Pikir Christy.
 “hehe.. kelepasan “ ternyata Gigilah yang membuat bau tak sedap itu keluar dari alat produksinya. Ah ini sudah hal umum bagi yang mengenal gigi. “uuu,,, mana bau lagi ihhh !”lagi-lagi Christy komplein sama aroma yang tercium tak juga minggat dari tempat mereka berada.
.             .                  .
 “Anisa!! Sini!!” ajak Christy dari jauh, setelah ia melihat anisa tersenyum dengan begitu, Anisa mungkin akan menurutinya. Namun Anisa hanya mengangguk dan tersenyum simpul. Itulah cara penolakan halusnya.
 “Gi, panggil kakak lo sini ! mungkin kalo lo yang manggil bakalan nurut.” Lanjut Christy. Awalnya dia sedikit kecewa, tapi dia mencoba untuk menyuruh gigi memanggil kakaknya.
  “Heh markonah sini lu!” seru gigi memanggil Anisa. Benar saja, Anisa langsung menuruti kemauan adiknya walaupu dengan panggilan yang tak mengenakan. Namun Anisa cukup senang karena dirinya merasa dibutuhkan.
 “Gi lo gak sopan banget siii.!” Tegur bisma.
 “eh Nisa kapan  sih terakhir kalinya gigi manggil lo kakak?” Tanya felly. Anisa diam, entah itu karena dia tak tau, lupa atau memang benar-benar gigi tak pernah memanggilnya dengan sebutan kakak. Bahasa ‘aku,kamu’pun tak digunakan gigi sebagai bahasa yang baik kepada seorang kakak. Apalagi gigi malah seenaknya mengubah dan memanggil nama indah Anisa menjadi markonah. Terkadang dirumahpun gig sering memanggil Anisa dengan menyebutbnama lengkap anisa namun merubah nama belakangnya.
  “Oke, lupain itu. Sekarang kamu mau gak gabung sama kita-kita?”  sepertinya Christy to the point langsung tancap dengan apa maksudnya. Anisa memandang adiknya.
  “udah, gigi gak usah dipikirin. Kalo dia gak suka lo gabung sama kita, gig out aja dari chibi. Ya gak ‘ker?” ucap felly sekenanya sambil mencolek dagu gigi. Gigi hanya menganggap biasa perkataan temannya itu.
  “lo diem? Oke, itu berarti tanda setuju. Deal chibi? Smash?” Rafael malah nyosor gitu aja. Padahal Anisa masih ragu dengan keikutsertaannnya didalam genk yang selalu menjadi perhatian orang tersebut.
  “Nah gitu dong Nis. Jadikan kita bisa lebih dekettt.” Ucap Bisma. Mungkin ia keceplosan, karena setelah berkata seperti itu ia langsung menutup mulutnya.
  “ma ma ma.. mati lampu” ya udah deh udahan dulu


Bersambung..



 Nah kan udah ketauan sikece suka sicupu. Hehe..                                    

Segiini panjang nggak? Kalo nggak besok aku panjangin lagi. Haha,so sanggup. Padahal nggak sanggup.
        Kalo ngga sanggup? Tidurinnn….

Fb=> Biissell



Anisa Rahma AdiAnisa Rahma Adi
Briggita ChintyaBriggita Chintya




Sabtu, 31 Januari 2015

Wiil Never End ~Re-post~



Title : Will never end ! Episode 1
Cast :
·         Anisa Rahma Adi

·         Bisma Kharisma

·         Christy Saura Noela Unu

·         Morgan Oey
.
.
.
           


 Membuka mata sempurna dan selebar-lebarnya dipagi buta seperti ini membuatku kesulitan dan merasa kesal. Bagaimana tidak,mataku yang kecil nan sipit harus kupaksa untuk kugunakan persiapkan bahan-bahan MOPD pertamaku hari ini. Karena dari kemarin aku sibuk mengurusi kakakku, kakakku satu-satunya yang sangat aku sayangi. Tapi dia sekarang sedang istirahat.


  Baik, satu persatu atribut aku pakai. Tinggal masukan ini, ini, ini, ini, dan… ini. Sudah !!!. Sekarang aku sedang menuruni anak tangga. Sesampainya, aku mendengar tawa lepas dari seorang paruh baya, ya dia ibuku. Tawanya lepas sekali, jarang-jarang aku melihatnya tertawa lepas seperti itu. Kumaklumi, karena hari ini aku bergaya seperti orang gila, tuntutan syarat mos. Kalau ibuku bisa tertawa lepas seperti tadi, kenapa tak setiap hari saja aku lakukan agar membuatnya selalu bergembira seperti dulu. Sebelum aku berangkat, ia terlebih dahulu bertanya padaku.

 “Yakin berangkat jam segini?”Tanyanya,kubalas dengan anggukan penuh semangat.

 “Sepagi ini??” Tanyanya lagi untuk lebih memastikan. Ya memang terlihat heran berangkat sekolah jam 05:30, padahal jarak sekolah dari rumah hanya 200 m. (?)

  “Iya Bun. Gak tau deh, kata osisnya waktu pengumuman kemarin harus tiba disekolah sepagi mungkin.”

  “Sudah pamit pada Kakakmu?”Ia mengingatkanku. Aku menggeleng

  “Cepat bilang padanya kalau kau hari ini akan berangkat lebih awal.”Lanjutnya.

   “Hufftt..Baiklah.”Aku kembali menaiki anak tangga untuk mengunjunginya.


            Kubuka pintu kamarnya perlahan, aku tak pernah terlebih dahulu mengetuknya karena itu akan mengganggu tidur panjangnya. Berbagai peralatan aneh tersimpan diruangan ini dan sebagiannya lagi melekat ditubuhnya. Diantaranya tabung (?) oksigen dan alat oksigen *atau apalah namanya* yang tengah membungkam mulutnya.
           

Kusapa pelan namanya, lalu kucium hangat keningnya. Sebenarnya, aku enggan ketempat ini, walaupun hal ini adalah rutinitasku sehari-hari. Mataku akan terlihat sembab , kalau sudah dari tempat ini. Kucium lagi keningnya dan sedikit berbisik padanya..
 “Kak, aku berangkat dulu. Tunggu aku yah!”
 “Kak, kenapa gak jawab?!”
 “Kak, kau terlihat tersenyum . haaa..  Kau sedang menertawakan aku ya ?! Janganlah kau tertawakan aku, malu!” Aku selalu membuat lelucon jika sedang mengajak bicara dengannya. Walaupun jawaban hampa yang kudapatkan.

.

.

.


             “Satu… dua.. duaaa..tigaa !”
 Sudah kuduga, jalanan macet tadi membuat persiapan sepagi buta itu menjadi sia-sia. Aku dihukum berlari lapangan 10 putaran dan skot jam 60 kali. Kukibaskan ke5 jariku dibagian leher agar dapat sedikit menghilangkan rasa gerahku. Lalu aku mendengar deheman seorang laki-laki seraya menjulurkan lengannya yg sedang menggenggam minuman dingin.Tapi aku hanya bisa  menelan ludah ketika lelaki tersebut meminum minuman dingin. Kufikir minuman dingin itu untukku. Tapi saat hendak aku mengambilnya, ia mempermainkanku. Ia hanya pamer!. Kudengar ia juga menertawakanku bersama teman-temannya.
 .
.                               
           

“Huaah.. Hari yang melelahkan.”Aku merebahkan tubuhku sejenak dan memejamkan mata. Lalu beranjak untuk mengganti pakaian, sebelumnya aku mandi terlebih dahulu agar terasa segar. Setelah terlihat rapi, aku berniat memenuhi janjiku tadi pagi pada kakakku. Namun, niatku terhalang karena ibu memanggilku untuk menyantap makan siang. Lagi pula cacing-cacing diperutku ini sudah berdemo dari tadi.

 “Bunda, setelah ini aku akan menemani kak Anisa. Ngga apa-apa ‘kan?”Tanyaku. Memang tak sopan berbicara disaat makan. Tapi ini kesempatan aku, mumpung ibu terlihat baik. Bukan berarti hari-harinya galak ya.

 “Ya sudah, lanjutkan lagi makanmu. Setelah ini bunda akan kekantor bertemu dengan klien, jaga baik-baik Kakakmu.”Jawabnya ramah, meskipun hari-harinya selalu dipenuhi dengan mengerjakan isi  kertas-kertas penting dan berjibaku dengan computer. Tapi  ia selalu  menyempatkan  waktu untuk keluarganya. Aku benar-benar beruntung hidup ditengah-tengah keluarga yang sempurna dan berada. Walaupun ada masalah yang selama lima tahun ini  selalu membuat hari-hari kami berduka.

 “Permissiiee…!!!” Kataku  bercanda seraya membuka pintu kamarnya.
 “Cii.. ci.. ci..lukk .. bhaa..”aku melakukannya seperti anak TK, aku menutup buka wajahku dengan ke10 jariku didepan wajahnya.
  “Heyy,, aku gak terlambatkan menjumpaimu?”Tanyaku lalu duduk dikursi yang sudah kusediakan sebelumnya ditempat ini, disampingnya.
 “Ah kamu mah suka gitu, kalau aku kesini Kakak sama sekali tak pernah menyapaku. Bahkan jika kau kuajak bicara, tak pernah ada tanda-tanda kau mendengarkanku, kenapa diem terus sih ??!. Kata-kata ya pun tak pernah aku dengar dari mulutmu. Apa kau kesusahan untuk berbicara ? Biarkan aku melepaskan benda aneh itu dari mulutmu.”Aku melepaskan oksigennya, kufikir  itu akan berhasil  walaupun ini masih bagian dari leluconku.
  “Haaa… Ayo ngomong!!Tanyakan,bagai mana keadaanmu hari ini, kiciku yang jeyyyeekk? Apa kau baik-baik saja. Mosmu lancar?. Atau apalah !.” Aku seperti oran gila saja disini. Aku merengkuh lehernya, bermaksud untuk memposisikan tubuhnya seperti orang duduk.

                Kutatap wajahnya, kupandangi  matanya yang terlihat sayu itu. Perlahan kubelai pipinya yang terasa lembut dan halus, lalu… AHh sialan air mata yang sejak tadi aku tahan akhirnya meluncur juga. ‘aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaarrrrrrrrrgghh..’ teriakan histeris itu selalu mendengung diotakku. Walaupun accident itu sudah berlalu 5 tahun silam. Tapi setiap kali kumemandang wajahnya, bayangan itu kembali muncul. Dimana saat aku melihat tubuh kakakku terkapar tak berdaya dijalan.

*

*

*

*

                Perkenalkan namaku Christy saura Noela Unu.,b iasanya aku dipanggil Christy. Kalau kici? Itu panggilan imut dari kakakku 5 tahun yang lalu saat ia masih bisa memanggilku ‘kici si jelek’ dan itu merupakan  icon darinya untukku. Tapi itu dulu, sebelum mobil sedan sialan itu menghantam tubuh mungilnya.
.
                Kejadian itu singkat sekali, saat kami bercanda ria ditaman. Kami saling berkejaran, Kakakku berlari kejalanan dan aku mengikutinya. Tanpa kuduga mobil cantik itu muncul disampingku, aku tak sempat mengantisipasinya untuk menghindar. Namun, tiba-tiba ada yang menarik dan mendorongku ketepi jalan.
                Aku tak bisa berkata-kata saat itu, bahkan aku tak berani melihat ia sedang mengeluarkan darah segar dari kepalanya yang terdapat pecahan luka yang menganga.
               
Kak Anisa mengalami koma, berhari-hari, minggu keminggu, bulan pun t’lah berlalu hingga bertahun kami menunggu kak Anisa membuka matanya,  Namun nihil. Jalanan aspal yang dibenturi kepala kak Anisa telah merusak system motoriknya (?). Semakin hari-hari dilewati memang tak menghasilkan perubahan, bahkan kak Anisa dinyatakan meninggal dari pihak rumah sakit yang katanya rumah sakit terpandang itu.
Keluargaku tak menyerah, kami memutuskan untuk membawanya pulang. Karena kami yakin, Kak Anisa masih ada. Semua peralatan rumah sakit kami angkut dan diatur sedemikian rupa dikamar ini agar jika kak Anisa bangun nanti, dia tak akan merasa gatal matanya melihat kamar tidurnya berantakan. Setiap 3 kali seminggu dokter terhebatpun kami tugaskan untuk mengunjungi dan memeriksa perkembangan kak Anisa. Anehnya, karena berkat keagungan tuhan dengan keadaan kakak yang seperti itu, tapi hormone yang ada pada tubuhnya tetap berjalan normal seperti manusia hidup pada umumnya. Dia tumbuh begitu cantik, aku saja iri melihat kecantikannya.

Aku jarang keluar rumah bersama teman sekolah, Karena setiap hari aku menemaninya, merawatnya dan memandikannya. Aku sangat ikhlas menjalani ini semua, yang membuat pertanyaan selama ini bagi kami adalah entah sampai kapan ia akan membuka matanya untukku, untuk kami semua.
Setiap hari aku menunggunya, walaupun dengan perasaan jenuh. Aku ingin menjadi orang pertama yang ia lihat.
                *alahnahangacapruk :/

                Hari semakin sore, aku terus menceritakan cerita novel padanya. Cerita favoritnya. Setiap siang malam aku menemaninya dan selalu menceritakan cerita padanya. Oleh karena itu, ketika aku akan memulai bercerita, aku selalu memposisikan tubuhnya untuk duduk agar lebih enak dan.. siapa tahu dia mendengarkanku.

                “selessaaaii…!!! Gimana ceritanya?? Rame gak? Kalau kurang rame, nanti aku akan belikan yang baru! Tapi aku ingin kau juga ikut menemaniku! Mau yah? Harus mau!”
“Ah kak, sudah sore. Kakak mau mandi ‘kan? Lagi pula bunda menitipkanmu padaku, jadi kau harus mau.!”
.
                Dengan susah payah aku memindahkannya ke bak mandi. Jangan ditanya bagaimana cara aku memindahkannya, karena tanpa alat aku menggusurnya (?). bukan maksud kasar atau tak sopan, memang ini sudah kebiasaan.
                Ok, aku mulai melepaskan beberapa pakaiannya. Lalu menyalakan air hangat dan beberapa alat mandi.
 “jangan harap kau bisa mandi denganku, karna aku sudah mandi tadi siang. Kau sih membuatku ingin bercerita padamu, jadi kau tak buru-buru mandi. Tapi, karena aku selalu baik padamu, aku akan mandi lagi.”ucapku tak jelas *waha mulai error
  “Bagaimana? Dingin?” kucipratkan air hangat kemukanya. Tapi tak ada reaksi apapun darinya. Aku menyabuni badannya lalu bergantian giliranku. Ketika aku ingin sikat gigi, kulirik sekilas wajahnya. Ternyata masih memejamkan mata. Kali ini aku puny aide yang sedikit konyol untuknya. 

                “Kau ingin sikat gigi sepertiku? Sikat gigilah sendiri! Habis ini kau bangun sendiri,  lalu memakai pakaianmu sendiri! Paham?!.”aku memberikan pelajaran untuknya, meninggalkannya dikamar mandi sendirian, bukannya aku cape atau malas mengurusinya, tapi ini masih leluconku. Aku merendamnya di bet up (?)!.

                Sekarang aku berada dikamarku sendiri. Aku merebahkan tubuhku dikasur.
 “Huftt.. bener-bener MOPD yang menyebalkan apalagi seniornya pada belagu semua.” *uuu,,,.
2 jam berlalu, tak kusadari aku terlelap disini. Tiba-tiba aku teringat sesuatu.
  “Ya tuhan…!!”pekikku seraya beralih kekamar sebelahku, tapi seseorang memanggilku. Suaranya taka sing lagi bagiku.
 “Iya bun..?”
“Kakakmu mana? Sudah dimandikan?”tanyanya. alamak, mati aku! . terpaksa aku harus jujur dengan perasaan yang sangat menyesal.
 “Aaaaa.. Aku lupa!! Kak Anisa masih dikamar mandi!.”Tandasku buru-buru seraya membuka pintu kamar kakakku, diikuti pula oleh ayah dan ibuku.
                Uuuu.. ternyata leluconku berujung petaka, kak Anisa ternyata masih berendam dikamar mandi. Tubuhnya mulai dingin dan pucat.
 “Apa yang kamu lakukan padanya?! Kalo kamu bosan mengurusinya, bilang padaku bukan begini caranya!”Ayah marah padaku juga bundaku. Aku memang salah. Seharusnya aku tak boleh mengerjainya terlalu berlebihan.
.

.

                Kami membawanya kerumah sakit karena khawatir terjadi sesuatu yang tak kami harapkan. Sesampainya, kakakku langsung masuk ruang UGD. Dengan cemas tak karuan, membuat kami tak bisa diam.  Mondar mandir sana sini menjadi aktivitas kami saat ini. Kusandarkan tubuh mungilku didinding. Tiba-tiba ayahku uring-uringan tak jelas didepan aku dan ibu.
 “Tak becuss..!! Biar aku saja yang mengurusinya, paham??! Jaga orang koma saja tak becus. Kalian mau menyia-nyiakan usaha kita selama ini?! Kubilang kau tak usah kerja!!! (menunjuk ibuku) urusi Anisa, anak-anak kita.  Jangan fikir Christy bisa menjaganya,  sedangkan kau sibuk sendiri mengurusi kantormu yang tak jelas itu. Aku hanya minta kalian berdua menjaganya . biar aku saja yang bekerja.”
 “Aku sudah memesan tiket pesawat, besok pagi kita take off (?)”Lanjutnya.
                Tiket pesawat? Apa yang ayahku rencanakan?. Aku ingin sekali mempertanyakan apa maksudnya memesan tiket pesawat, namun…




 Bersambung dulu deh yah….










                Fb => Biissell
                Twitter => …

Bobo dulu ahh….

                zzzzZZZttt….