Title : Will never end ! Episode 1
Cast :
·
Anisa Rahma Adi
·
Bisma Kharisma
·
Christy Saura Noela Unu
·
Morgan Oey
.
.
.
Membuka mata sempurna dan selebar-lebarnya
dipagi buta seperti ini membuatku kesulitan dan merasa kesal. Bagaimana
tidak,mataku yang kecil nan sipit harus kupaksa untuk kugunakan persiapkan
bahan-bahan MOPD pertamaku hari ini. Karena dari kemarin aku sibuk mengurusi
kakakku, kakakku satu-satunya yang sangat aku sayangi. Tapi dia sekarang sedang
istirahat.
Baik, satu persatu atribut aku pakai. Tinggal
masukan ini, ini, ini, ini, dan… ini. Sudah !!!. Sekarang aku sedang menuruni
anak tangga. Sesampainya, aku mendengar tawa lepas dari seorang paruh baya, ya
dia ibuku. Tawanya lepas sekali, jarang-jarang aku melihatnya tertawa lepas
seperti itu. Kumaklumi, karena hari ini aku bergaya seperti orang gila,
tuntutan syarat mos. Kalau ibuku bisa tertawa lepas seperti tadi, kenapa tak
setiap hari saja aku lakukan agar membuatnya selalu bergembira seperti dulu.
Sebelum aku berangkat, ia terlebih dahulu bertanya padaku.
“Yakin berangkat jam segini?”Tanyanya,kubalas
dengan anggukan penuh semangat.
“Sepagi ini??” Tanyanya lagi
untuk lebih memastikan. Ya memang terlihat heran berangkat sekolah jam 05:30,
padahal jarak sekolah dari rumah hanya 200 m. (?)
“Iya Bun. Gak tau deh, kata osisnya waktu
pengumuman kemarin harus tiba disekolah sepagi mungkin.”
“Sudah pamit pada Kakakmu?”Ia mengingatkanku.
Aku menggeleng
“Cepat bilang padanya kalau kau hari ini akan
berangkat lebih awal.”Lanjutnya.
“Hufftt..Baiklah.”Aku kembali menaiki anak
tangga untuk mengunjunginya.
Kubuka
pintu kamarnya perlahan, aku tak pernah terlebih dahulu mengetuknya karena itu
akan mengganggu tidur panjangnya. Berbagai
peralatan aneh tersimpan diruangan ini dan sebagiannya lagi melekat ditubuhnya.
Diantaranya tabung (?) oksigen dan alat oksigen *atau apalah namanya* yang
tengah membungkam mulutnya.
Kusapa
pelan namanya, lalu kucium hangat keningnya. Sebenarnya, aku enggan ketempat
ini, walaupun hal ini adalah rutinitasku sehari-hari. Mataku akan terlihat
sembab , kalau sudah dari tempat ini. Kucium lagi keningnya dan sedikit
berbisik padanya..
“Kak, aku berangkat dulu. Tunggu aku yah!”
“Kak, kenapa gak jawab?!”
“Kak, kau terlihat tersenyum . haaa.. Kau sedang menertawakan aku ya ?! Janganlah
kau tertawakan aku, malu!” Aku selalu membuat lelucon jika sedang mengajak
bicara dengannya. Walaupun jawaban hampa yang kudapatkan.
.
.
.
“Satu… dua.. duaaa..tigaa !”
Sudah kuduga, jalanan macet tadi membuat
persiapan sepagi buta itu menjadi sia-sia. Aku dihukum berlari lapangan 10
putaran dan skot jam 60 kali. Kukibaskan ke5 jariku dibagian leher agar dapat
sedikit menghilangkan rasa gerahku. Lalu aku mendengar deheman seorang
laki-laki seraya menjulurkan lengannya yg sedang menggenggam minuman
dingin.Tapi aku hanya bisa menelan ludah
ketika lelaki tersebut meminum minuman dingin. Kufikir minuman dingin itu
untukku. Tapi saat hendak aku mengambilnya, ia mempermainkanku. Ia hanya
pamer!. Kudengar ia juga menertawakanku bersama teman-temannya.
.
.
“Huaah..
Hari yang melelahkan.”Aku merebahkan tubuhku sejenak dan memejamkan mata. Lalu
beranjak untuk mengganti pakaian, sebelumnya aku mandi terlebih dahulu agar
terasa segar. Setelah terlihat rapi, aku berniat memenuhi janjiku tadi pagi
pada kakakku. Namun, niatku terhalang karena ibu memanggilku untuk menyantap
makan siang. Lagi pula cacing-cacing diperutku ini sudah berdemo dari tadi.
“Bunda, setelah ini aku akan menemani kak
Anisa. Ngga apa-apa ‘kan?”Tanyaku. Memang tak sopan berbicara disaat makan.
Tapi ini kesempatan aku, mumpung ibu terlihat baik. Bukan berarti hari-harinya
galak ya.
“Ya sudah, lanjutkan lagi
makanmu. Setelah ini bunda akan kekantor bertemu dengan klien, jaga baik-baik
Kakakmu.”Jawabnya ramah, meskipun hari-harinya selalu dipenuhi dengan
mengerjakan isi kertas-kertas penting
dan berjibaku dengan computer. Tapi ia
selalu menyempatkan waktu untuk keluarganya. Aku benar-benar
beruntung hidup ditengah-tengah keluarga yang sempurna dan berada. Walaupun ada
masalah yang selama lima tahun ini
selalu membuat hari-hari kami berduka.
“Permissiiee…!!!” Kataku bercanda seraya membuka pintu kamarnya.
“Cii.. ci.. ci..lukk ..
bhaa..”aku melakukannya seperti anak TK, aku menutup buka wajahku dengan ke10
jariku didepan wajahnya.
“Heyy,, aku gak terlambatkan
menjumpaimu?”Tanyaku lalu duduk dikursi yang sudah kusediakan sebelumnya
ditempat ini, disampingnya.
“Ah kamu mah suka gitu, kalau
aku kesini Kakak sama sekali tak pernah menyapaku. Bahkan jika kau kuajak
bicara, tak pernah ada tanda-tanda kau mendengarkanku, kenapa diem terus sih
??!. Kata-kata ya pun tak pernah aku dengar dari mulutmu. Apa kau kesusahan
untuk berbicara ? Biarkan aku melepaskan benda aneh itu dari mulutmu.”Aku
melepaskan oksigennya, kufikir itu akan
berhasil walaupun ini masih bagian dari
leluconku.
“Haaa… Ayo ngomong!!Tanyakan,bagai
mana keadaanmu hari ini, kiciku yang jeyyyeekk? Apa kau baik-baik saja. Mosmu
lancar?. Atau apalah !.” Aku seperti oran gila saja disini. Aku
merengkuh lehernya, bermaksud untuk memposisikan tubuhnya seperti orang duduk.
Kutatap wajahnya,
kupandangi matanya yang terlihat sayu
itu. Perlahan kubelai pipinya yang terasa lembut dan halus, lalu… AHh sialan
air mata yang sejak tadi aku tahan akhirnya meluncur juga.
‘aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaarrrrrrrrrgghh..’ teriakan histeris itu selalu
mendengung diotakku. Walaupun accident itu sudah berlalu 5 tahun silam. Tapi
setiap kali kumemandang wajahnya, bayangan itu kembali muncul. Dimana saat aku
melihat tubuh kakakku terkapar tak berdaya dijalan.
*
*
*
*
Perkenalkan
namaku Christy saura Noela Unu.,b iasanya aku dipanggil Christy. Kalau kici?
Itu panggilan imut dari kakakku 5 tahun yang lalu saat ia masih bisa
memanggilku ‘kici si jelek’ dan itu merupakan
icon darinya untukku. Tapi itu dulu, sebelum mobil sedan sialan itu
menghantam tubuh mungilnya.
.
Kejadian itu
singkat sekali, saat kami bercanda ria ditaman. Kami saling berkejaran, Kakakku
berlari kejalanan dan aku mengikutinya. Tanpa kuduga mobil cantik itu muncul
disampingku, aku tak sempat mengantisipasinya untuk menghindar. Namun,
tiba-tiba ada yang menarik dan mendorongku ketepi jalan.
Aku tak bisa
berkata-kata saat itu, bahkan aku tak berani melihat ia sedang mengeluarkan
darah segar dari kepalanya yang terdapat pecahan luka yang menganga.
Kak Anisa mengalami koma, berhari-hari,
minggu keminggu, bulan pun t’lah berlalu hingga bertahun kami menunggu kak
Anisa membuka matanya, Namun nihil.
Jalanan aspal yang dibenturi kepala kak Anisa telah merusak system motoriknya
(?). Semakin hari-hari dilewati memang tak menghasilkan perubahan, bahkan kak
Anisa dinyatakan meninggal dari pihak rumah sakit yang katanya rumah sakit
terpandang itu.
Keluargaku tak menyerah, kami memutuskan
untuk membawanya pulang. Karena kami yakin, Kak Anisa masih ada. Semua
peralatan rumah sakit kami angkut dan diatur sedemikian rupa dikamar ini agar
jika kak Anisa bangun nanti, dia tak akan merasa gatal matanya melihat kamar
tidurnya berantakan. Setiap 3 kali seminggu dokter terhebatpun kami tugaskan
untuk mengunjungi dan memeriksa perkembangan kak Anisa. Anehnya, karena berkat
keagungan tuhan dengan keadaan kakak yang seperti itu, tapi hormone yang ada
pada tubuhnya tetap berjalan normal seperti manusia hidup pada umumnya. Dia
tumbuh begitu cantik, aku saja iri melihat kecantikannya.
Aku jarang keluar rumah bersama teman
sekolah, Karena setiap hari aku menemaninya, merawatnya dan memandikannya. Aku
sangat ikhlas menjalani ini semua, yang membuat pertanyaan selama ini bagi kami
adalah entah sampai kapan ia akan membuka matanya untukku, untuk kami semua.
Setiap hari aku menunggunya, walaupun
dengan perasaan jenuh. Aku ingin menjadi orang pertama yang ia lihat.
*alahnahangacapruk
:/
Hari semakin
sore, aku terus menceritakan cerita novel padanya. Cerita favoritnya. Setiap
siang malam aku menemaninya dan selalu menceritakan cerita padanya. Oleh karena
itu, ketika aku akan memulai bercerita, aku selalu memposisikan tubuhnya untuk
duduk agar lebih enak dan.. siapa tahu dia mendengarkanku.
“selessaaaii…!!!
Gimana ceritanya?? Rame gak? Kalau kurang rame, nanti aku akan belikan yang
baru! Tapi aku ingin kau juga ikut menemaniku! Mau yah? Harus mau!”
“Ah kak, sudah sore. Kakak mau mandi ‘kan? Lagi pula bunda
menitipkanmu padaku, jadi kau harus mau.!”
.
Dengan susah
payah aku memindahkannya ke bak mandi. Jangan ditanya bagaimana cara aku
memindahkannya, karena tanpa alat aku menggusurnya (?). bukan maksud kasar atau
tak sopan, memang ini sudah kebiasaan.
Ok, aku mulai
melepaskan beberapa pakaiannya. Lalu menyalakan air hangat dan beberapa alat
mandi.
“jangan harap kau bisa mandi
denganku, karna aku sudah mandi tadi siang. Kau sih membuatku ingin bercerita
padamu, jadi kau tak buru-buru mandi. Tapi, karena aku selalu baik padamu, aku
akan mandi lagi.”ucapku tak jelas *waha mulai error
“Bagaimana? Dingin?”
kucipratkan air hangat kemukanya. Tapi tak ada reaksi apapun darinya. Aku
menyabuni badannya lalu bergantian giliranku. Ketika aku ingin sikat gigi,
kulirik sekilas wajahnya. Ternyata masih memejamkan mata. Kali ini aku puny
aide yang sedikit konyol untuknya.
“Kau ingin sikat
gigi sepertiku? Sikat gigilah sendiri! Habis ini kau bangun sendiri, lalu memakai pakaianmu sendiri! Paham?!.”aku
memberikan pelajaran untuknya, meninggalkannya dikamar mandi sendirian,
bukannya aku cape atau malas mengurusinya, tapi ini masih leluconku. Aku
merendamnya di bet up (?)!.
Sekarang aku
berada dikamarku sendiri. Aku merebahkan tubuhku dikasur.
“Huftt.. bener-bener MOPD yang
menyebalkan apalagi seniornya pada belagu semua.” *uuu,,,.
2 jam berlalu, tak kusadari aku terlelap disini. Tiba-tiba aku
teringat sesuatu.
“Ya tuhan…!!”pekikku seraya
beralih kekamar sebelahku, tapi seseorang memanggilku. Suaranya taka sing lagi
bagiku.
“Iya bun..?”
“Kakakmu mana? Sudah dimandikan?”tanyanya. alamak, mati aku! . terpaksa
aku harus jujur dengan perasaan yang sangat menyesal.
“Aaaaa.. Aku lupa!! Kak Anisa
masih dikamar mandi!.”Tandasku buru-buru seraya membuka pintu kamar kakakku,
diikuti pula oleh ayah dan ibuku.
Uuuu.. ternyata
leluconku berujung petaka, kak Anisa ternyata masih berendam dikamar mandi.
Tubuhnya mulai dingin dan pucat.
“Apa yang kamu lakukan
padanya?! Kalo kamu bosan mengurusinya, bilang padaku bukan begini
caranya!”Ayah marah padaku juga bundaku. Aku memang salah. Seharusnya aku tak
boleh mengerjainya terlalu berlebihan.
.
.
Kami membawanya
kerumah sakit karena khawatir terjadi sesuatu yang tak kami harapkan.
Sesampainya, kakakku langsung masuk ruang UGD. Dengan cemas tak karuan, membuat
kami tak bisa diam. Mondar mandir sana
sini menjadi aktivitas kami saat ini. Kusandarkan tubuh mungilku didinding.
Tiba-tiba ayahku uring-uringan tak jelas didepan aku dan ibu.
“Tak becuss..!! Biar aku saja
yang mengurusinya, paham??! Jaga orang koma saja tak becus. Kalian mau
menyia-nyiakan usaha kita selama ini?! Kubilang kau tak usah kerja!!! (menunjuk
ibuku) urusi Anisa, anak-anak kita.
Jangan fikir Christy bisa menjaganya,
sedangkan kau sibuk sendiri mengurusi kantormu yang tak jelas itu. Aku
hanya minta kalian berdua menjaganya . biar aku saja yang bekerja.”
“Aku sudah memesan tiket
pesawat, besok pagi kita take off (?)”Lanjutnya.
Tiket pesawat?
Apa yang ayahku rencanakan?. Aku ingin sekali mempertanyakan apa maksudnya
memesan tiket pesawat, namun…
Bersambung dulu deh yah….
Fb
=> Biissell
Twitter
=> …
Bobo dulu ahh….
zzzzZZZttt….
