Selasa, 10 Februari 2015

Masih Sama ~Re-post~

Tittle : Andai saja? Episode. 2
Cast :
  •  Anisa rahma adi
  • Brigitta chyntia (?)
  • Bisma Karisma
  • De el el…. 



sebelumnya........ 


ini link part 1, tambahan dari Own sii superr Kece, tapi masih kecean kaliaann Abv .. :v







Bismillah..

         Sesampainya dirumah, Anisa langsung mengganti pakaian dengan baju yang sederhana. Ia melepaskan kacamtanya sejenak tuk mengambil air wudhu lalu memakai sebuah kain suci (?). rupanya ia akan melaksanakan tugas tujuan utama hidupnya yaitu beribadah kepada sang pencipta. Setelahnya, lantunan ayat suci Al-Qur’an ia kumandangkan dikamar luasnya. Lalu, Anisa beranjak menuju dapur. Sepertinya ia akan membantu ibunya untuk menyiapkan menu makanan hari ini, karena terlihat Anisa langsung saja mengambil pisau dan papan untuk memotong sesuatu.
  “Sayang, kamu jangan terlalu lelah ‘nak. Ini semua biar mama yang menyelesaikannya.”Ujar ibunya. Kata-kata itu sangatlah familiar ditelinga Anisa. Namun Anisa hanya bisa membalasnya dengan senyuman simpul, tapi kali ini ia menjawab (?).
  “gapapa lah ma, lagian mubazir kalo Anisa diciptain buat gini-gini aja.” Seketika itu pula ibunya menghentikan aktivitasnya, ibunya itu tampak terdiam sejenak dan menggeleng kepala kemudian melanjutkannya lagi.
  “Oh ya ma, abis ini Nisa mau langsung keruang prakteknya papa mauu ini emmhh ada berkas yang perlu Nisa pelajari.” Lanjut Anisa. Bicaranya seperti orang dewasa yang kerjanya kantoran, padahal ia masih duduk dibangku SMA kelas XII.
 “Nisa! Boleh, tapi setelah makan siang.” Ibunya terlihat panas (?)
 “Tapi ma, Nisa harus cepat-cepat menguasai materi yang papa kasih sebelum papa pulang.” Jawab Anisa tetap halus.
  “Ayolah Nisa, mama minta kamu lupain sejenak tentang itu. Mama tak ingin kamu..”
 “Tapi ma, gimana kalo papa nanya berkas yang belum Nisa pelajari itu? Nisa harus jawab apa, ma? Pokonya Nisa gak mau ngecewain papa.” Jawab Anisa lembut. Tanpa disadari air mata menetes dipipi ibunya. Ibunya mematikan kompor lalu membalikan badannya dan menatap tubuh Anisa yang sedikit kurusan. Anisa masih saja sibuk memotong beberapa bahan masakan.
 “Mama mohon, lupakan cita-cita papamu. Mama sudah tak tahan, jaga kesehatanamu Anisa, dari awal mama juga tak setuju jika kamu mengikuti jejak papamu.” Nasihatnya. Namun, Anisa tetap menggeleng.
 Sudah lama memang, bahkan sejak anak-anaknya masih kecil orang tua Anisa sudah berbeda misi dan visi untuk mendidik mau jadi apa anaknya nanti. Tak kadang pula mereka bertengkar mempermasalahkan itu, namun tidak untuk didepan anak-anaknya terutama didepan Anisa.
.

.

         Selesai mempelajari berkas itu, Anisa memutuskan untuk mengisi perutnya. Namun, baru saja sesuap nasi ia layangkan pada mulutnya, ayahnya dating dan langsung harus menemuinya diruang praktik pribadinya. Sontak sang ibuyang sedang memperhatikan Anisa makan, langsung mengajak suaminya ketempat tersembunyi (?). Namun, saat mereka bercakap-cakap ditempat tersebut tanpa diketahui, Gigi mengintipnya diikuti intipan Anisa. Gigi dan Anisa mendengar ke2 orangtuanya sedang memperdebatkan sesuatu. Walaupun terdengar samar, Gigi masih bisa mengaritkannya bahwa mereka sedang bertengkar.
“Ini semua gara-gara lo tau gak!” gigi memarahi kakaknya yang jelas-jelas Anisa masih tak mengerti apa salahnya.
“Aku?emang aku kenapa?” Tanya Anisa polos, menunjuk dirinya sendiri dengan jari telunjuknya.
“Iya elu ! mereka berantem gara-gara elu!!.” Gig kembali membentak Anisa.
“Mereka? Maksud kamu papa mama? Emang lagi pada berantem?.” Tanyanya lagi. Sepertinya Anisa tak begitu memperhatikan gerak gerik ke2 orangtuanya yang sedang bertengkar itu.
“Elu tuu!!! Arrgghh…(hampir memukul Anisa). Pinter dimananya sih?!. Nyesel gue punya sodara kaya lu.” Bentak Gigi lagi, namun kali ini namun kali ini suaranya lebih keras dan terdengar oleh ke2 orangtuanya. Seketika mereka menghentikan pertengkarannya dan menghampiri anak-anaknya dengan langkah yang tergesa-gesa.
“Anisa kamu ngga apa-apa ‘nak?” Tanya ibunya sambil meraba dan mendongakan wajah Anisa. Pertanyaan yang aneh, kenapa hanya Anisa yang mendapat peranyaan itu?
“Dasar..” ucap Gigi seraya berlalu. Wajahnya sinis saat sekilas melirik wajah Anisa. Mungkin Gigi kesal atau iri karena selalu saja apa-apa Anisa yang didahulukan. Baru saja, yang pertama kali disapa malah Anisa.
“Ma, kata Gigi mama sama papa lagi berantem yah?” Tanya Anisa polos, ibunya langsung saling memandang dengan suaminya.
“Enggak sayang, mama sama papa tadi lagi eksperimen (?).” jawabnya berbohong, Anisa hanya mengangguk dan O.

.

.

.

                   Hari terus berlanjut, karena hari ini belumlah kiamat. Anisa masih tetap saja begitu,masih menjadi sesosok yang pendiam dengan gelar yang ia pertahankan apalagi kalau bukan “SIANEH”. Tapi kini genk chibi selalu mencoba mendekati Anisa. Maksud mereka baik, hanya ingin menjadi teman Anisa saja.
          Sekarang chibi dan smash sedang bercanda ria dikantin. Mereka 1 meja, smash terdiri dari 7 pria, sedangkan chibi terdiri dari 7 eumm.. 8 wanita namun sijagoannya chibi masih belum tampak diantara mereka.
 “Eh gue ngerasa kasian deh sama Anisa, tiap hari dia sendiri gitu gak pernah ada yang nemenin. Sekali ada paling cuman gue doang.” Ucap Christy iba sambil melihat kearah diamana Anisa duduk.
 “Gimana kalo Anisa gabung sama kita? Gimana?” solusi reza yang sukses mendapat anggukan dari teman-temannya.
 .
.


      Suasana kantin menjadi berubah ketika ada sosok wanita tomboy muncul dpintuk masuk. Ia selalu menjadi perhatian khalayak karena tingkah polahnya yang selalu mengundang tawa. Baru saja saat ia akan menghampiri chibi dan smash, ia berjalan santai dengan iringan canda tawa seisi kantin. Siapa yang tidak ketawa melihat ulah Gigi yang berjalan sambil mengangkat 1 tangannya lalu ia gerakan seakan dia itu seorang pejabat. Diam-diam Anisa tersenyum melihat adiknya.
 “Wey bro, dari mana aja lo. Jam segini baru nongol?” Tanya dicky sesaat setelah Gigi duduk disampingnya.
 “Ya elah telat 15 menit aja udah jadi pertanyaan. Aa.aaa ngerasa kehilangan gue yak!” goda Gigi sambil menunjuk-nunjuk emua temannya.
 “sorakin gigi…!!”
 “wuuu..”
 “sekali lagi”
 “woooo…….”

          Gigi hanya tertawa garing melihat teman-temannya meledeknya. Ini hal biasa jadi gigi hanya menyikapinya dengan canda pula. Gigi tak pernah menganggap serius atas apa yg dikatakan temannya walaupun itu menyinggung perasaannya. Itulah chibi & smash, mereka sangat merasa kehilangan sekali bila mereka tanpa kehadiran Gigi.
Saat semua sedang asyik melahap makanan, tiba-tiba terdengar suara bunyi aneh dari bawah. Setelahnya, tercium bau sesuatu yang menghilangkan nafsu makan semuanya. Chibi dan smash menutup hidungnya masing-masing. Gigi malah terlihat tertawa ngakak atas ulahnya itu.
“iihh Gigi kebiasaan deh .” dengus Christy yang sedang memencet idungnya dan mengibas-ngibaskan tangannya didepannya. Tak sengaja saat Christy melirik sekilas kearah Anisa. Anisa terlihat tersenyum melihat adiknya, tapi setelah Anisa mengetahui bahwa ada yang memperhatikannya, Anisa kembali menjadikan dirinya seperti semula. Aneh’itulah yang ada difikiran chrsity, ya kalopun mau ketawa silahkan aja kenapa harus malu.. tapi kalo ia tersenyum, manis juga. Pikir Christy.
 “hehe.. kelepasan “ ternyata Gigilah yang membuat bau tak sedap itu keluar dari alat produksinya. Ah ini sudah hal umum bagi yang mengenal gigi. “uuu,,, mana bau lagi ihhh !”lagi-lagi Christy komplein sama aroma yang tercium tak juga minggat dari tempat mereka berada.
.             .                  .
 “Anisa!! Sini!!” ajak Christy dari jauh, setelah ia melihat anisa tersenyum dengan begitu, Anisa mungkin akan menurutinya. Namun Anisa hanya mengangguk dan tersenyum simpul. Itulah cara penolakan halusnya.
 “Gi, panggil kakak lo sini ! mungkin kalo lo yang manggil bakalan nurut.” Lanjut Christy. Awalnya dia sedikit kecewa, tapi dia mencoba untuk menyuruh gigi memanggil kakaknya.
  “Heh markonah sini lu!” seru gigi memanggil Anisa. Benar saja, Anisa langsung menuruti kemauan adiknya walaupu dengan panggilan yang tak mengenakan. Namun Anisa cukup senang karena dirinya merasa dibutuhkan.
 “Gi lo gak sopan banget siii.!” Tegur bisma.
 “eh Nisa kapan  sih terakhir kalinya gigi manggil lo kakak?” Tanya felly. Anisa diam, entah itu karena dia tak tau, lupa atau memang benar-benar gigi tak pernah memanggilnya dengan sebutan kakak. Bahasa ‘aku,kamu’pun tak digunakan gigi sebagai bahasa yang baik kepada seorang kakak. Apalagi gigi malah seenaknya mengubah dan memanggil nama indah Anisa menjadi markonah. Terkadang dirumahpun gig sering memanggil Anisa dengan menyebutbnama lengkap anisa namun merubah nama belakangnya.
  “Oke, lupain itu. Sekarang kamu mau gak gabung sama kita-kita?”  sepertinya Christy to the point langsung tancap dengan apa maksudnya. Anisa memandang adiknya.
  “udah, gigi gak usah dipikirin. Kalo dia gak suka lo gabung sama kita, gig out aja dari chibi. Ya gak ‘ker?” ucap felly sekenanya sambil mencolek dagu gigi. Gigi hanya menganggap biasa perkataan temannya itu.
  “lo diem? Oke, itu berarti tanda setuju. Deal chibi? Smash?” Rafael malah nyosor gitu aja. Padahal Anisa masih ragu dengan keikutsertaannnya didalam genk yang selalu menjadi perhatian orang tersebut.
  “Nah gitu dong Nis. Jadikan kita bisa lebih dekettt.” Ucap Bisma. Mungkin ia keceplosan, karena setelah berkata seperti itu ia langsung menutup mulutnya.
  “ma ma ma.. mati lampu” ya udah deh udahan dulu


Bersambung..



 Nah kan udah ketauan sikece suka sicupu. Hehe..                                    

Segiini panjang nggak? Kalo nggak besok aku panjangin lagi. Haha,so sanggup. Padahal nggak sanggup.
        Kalo ngga sanggup? Tidurinnn….

Fb=> Biissell



Anisa Rahma AdiAnisa Rahma Adi
Briggita ChintyaBriggita Chintya